Finansial Insight: “Membangun Literasi Keuangan dan Jiwa Kewirausahaan Menuju Generasi Mandiri Finansial"

Finansial Insight: “Membangun Literasi Keuangan dan Jiwa Kewirausahaan Menuju Generasi Mandiri Finansial"

Bandung, Selasa 6 Januari 2026

Seminar Financial Insight 2026: Membangun Literasi Keuangan dan Jiwa Kewirausahaan

Telah diselenggarakan Seminar Financial Insight 2026 dengan tema "Membangun Literasi Keuangan dan Jiwa Kewirausahaan Menuju Generasi Mandiri Finansial". Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai pentingnya pengelolaan keuangan sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi modern.

Kegiatan ini dihadiri oleh:
Ibu Amilia Tresnawati, S.Sos., M.M. (Dosen Manajemen Keuangan)
Bapak Riyan Hadithya, S.E., M.M. (Kepala Program Studi S1 Manajemen)
Ibu Selly Siti Selfia, S.Ak. (Kepala Biro Kemahasiswaan)
Ibu Darsiti, S.Kom., M.Kom. (Wakil Rektor II)

Acara diselenggarakan oleh panitia mahasiswa yang diketuai oleh Muhammad Helmy Ihsan Musyafa. Kehadiran para pimpinan menegaskan komitmen institusi dalam mendorong kompetensi mahasiswa.

Pelatihan Mini Bootcamp

Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk Mini Bootcamp satu hari. Rangkaian kegiatan meliputi sesi perkenalan, kuis evaluasi, penjelasan skema sertifikasi, analisis laporan keuangan, hingga manajemen risiko digital.

Selain itu, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang inspiratif bagi generasi muda dalam mengelola keuangan secara bijak di era digital, mulai dari analisis laporan keuangan, pengambilan keputusan investasi, hingga pengelolaan kas dan manajemen risiko.

"Pelatihan ini bertujuan memberikan pemahaman praktis agar peserta mampu menerapkan pengelolaan keuangan secara mandiri dan bertanggung jawab."
— Abdul Rozzak Junaidi, S.Kom., C.T (Coach Jun)

Pentingnya Sertifikasi

Dr. Sri Lestari Prasilowati, M.A. selaku Narasumber Kedua memberikan tips pentingnya sertifikasi profesi bagi mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Saat ini, jumlah lulusan terus meningkat, namun banyak di antaranya belum memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, terjadi skill gap antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

Ijazah saja tidak lagi cukup sebagai bekal memasuki dunia kerja. Industri lebih menilai kompetensi nyata yang dibuktikan melalui sertifikasi. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki pembeda selain IPK, salah satunya melalui sertifikasi profesi yang diakui secara nasional.

Sebagai kesimpulan, sertifikasi profesi merupakan langkah strategis bagi mahasiswa untuk membuktikan kompetensi, meningkatkan daya saing, dan mempersiapkan diri secara lebih matang dalam memasuki dunia kerja.

Tim PDD: Tiara Situmorang